2 Mar 2016

180 Hari Sebelum Pernikahan



Selamat pagi, jakarta lebih sering hujan akhir-akhir ini. Aku menyukai wanginya. Entah kenapa, Jakarta selalu lebih tenang setelah kehujanan. Mungkin emosi-emosi yang biasa bertebaran di jalanan sudah terbasuh. Walau hujan bergeser beberapa bulan, semoga tidak mempengaruhi rencana semesta untukku dan untukmu, juga kita.

Hari ini, tepat 6 bulan sebelum pernikahan kita dan aku masih belum dapat mengumpulkan nyawaku sepenuhnya. Banyak pikiran-pikiran yang harus dipindahkan. Harapan-harapan yang harus dibenahi, dan cerita-cerita yang harus diselesaikan. Aku masih belum tahu harus memulai dari mana. Menyesuaikan keakuan menjadi kekitaan tidak selalu mudah. Pun setelah satu tahun kita memutuskan untuk bersama. Semakin lama, semakin banyak alasan untuk ragu. Namun, melihatmu dan mengingat semua cita-cita kita, alasan-alasan itu luruh dengan sendirinya.

Rencana kita untuk mempersiapkan semua perihal pernikahan sendirian kurasa harus dimulai dari sekarang dengan tetap memberikan porsi bagi budaya dan orang tua kita. Orang tua kita tentu harus ikut campur, mereka yang paling berbahagia dengan berita pernikahan kita. Pernikahan anak adalah salah satu hal yang dapat dibanggakan oleh orang tua bukan? Jadi, tidak ada salahnya sedikit dicereweti disana-sini. Tidak ada salahnya memiliki asisten sutradara, selama ceritanya tetap berjalan sesuai keinginan kita.

Tradisi juga harus mendapatkan tempat sendiri dalam pernikahan kita, Aku ingin keluarga kita tetap pada akar budaya dan adat istiadatnya. Pohon yang besar selalu punya akar yang kuat bukan? Kukira semua tradisi dalam budaya kita memiliki maksud yang baik. Tradisi-tradisi ini yang membuat kita menjadi utuh. Tidak ada alasan untuk menghilangkan adat istiadat dan menjadi kekinian atau kebarat-baratan. Adat melengkapi kita dan menjadi dasar untuk rumah tangga yang baik.

Aku masih sering tertawa sendiri mendengar kedua orang tua kita berdebat menentukan tanggal. Budaya kita mengenal perhitungan hari baik. Sesungguhnya aku tidak masalah kapanpun pernikahan kita dilangsungkan. Pun mengikuti hari baik dalam budaya kita, tidak ada salahnya. Selama seluruh persiapan yang kita susun sudah terpenuhi.

Akan menarik bagaimana kita menyusun semua ini dari kota-kota yang berbeda. Komunikasi kita terbatas pada maya dan aku harap tidak akan menjadi masalah selama kita saling percaya dan menjalankan peran masing-masing.

Kita sedang menyusun kekitaan.

Yudith Susetio
2 Maret 2016

Tidak ada komentar: