7 Mar 2016

Perihal Memasak di Keluarga Kita Nanti


Kau tahu, perihal masak-memasak di keluarga kita nanti, aku tidak pernah cemas. Pun bukan masalah karena kita tidak terlalu pandai memasak. Dulu saat aku tinggal di asrama turki, aku terbiasa memasak. Walaupun masakannya mungkin tidak terlalu familiar untukmu. Tapi setidaknya kita dapat bergantian. Dan bukankah menyenangkan memasak bersama? Kita dapat bercanda disela-selanya. Kita akan berdebat kecil mengenai mana yang harus dipanaskan terlebih dahulu atau siapa yang harus mengocok telur.

Terlebih, pasangan-pasangan muda yang banyak kutemui sekarang lebih hafal makan di mana daripada masak apa. Beberapa diantara mereka lupa, pentingnya masakan rumah. Masakan rumah mengikat kita menjadi satu. Masakan rumah adalah satu dari sekian banyak hal yang akan kita rindukan saat hendak pulang. Masakan rumah adalah bumbu agar keluarga kita tetap manis dan menyenangkan. Masakan rumah itu seperti tungku yang membuat rumah selalu hangat dan nyaman untuk ditinggali. Masakan rumah adalah salah satu bentuk perhatian yang konkret dan nyata. Rumah tanpa dapur, bukan rumah sama sekali.

Dimasa mudaku, aku kerap kali menginap di rumah beberapa orang teman. Beberapa mereka memiliki rumah yang nyaman, pun beberapa tidak. Anak-anak mencari makanan untuk diri mereka sendiri, entah beli dari luar atau sekedar memasak telur dan mie. Mereka tidak menerima perhatian nyata dari keluarganya. Meja makannya selalu kosong. Perlahan, keterikatannya dengan rumah dan keluarga menipis.

Hingga kini, saat aku sakit atau lara, satu hal yang selalu aku inginkan adalah sup ayam buatan ibu. Tidak ada lain selain itu yang dapat menjadi pelipur lara. Masakan rumah tidak selalu harus sulit. Sesederhana sup ayam buatan ibu yang hanya godogan ayam hingga kuahnya menjadi kaldu, ditambah merica, bawang daun, tomat dan garam juga sejumput gula. Tidak selalu harus sempurna, toh aku bukan akan mengawini seorang koki bukan?

Dulu, keluargaku pernah benar-benar tidak mampu, hingga kami harus memasak dadar satu butir telur untuk berempat ditemani sambal goang buatan ibu. Tapi, makan ketika itu adalah salah satu waktu terbaik yang selalu aku kenang. Aku masih ingat bagaimana kepala kami bertubrukan di atas piring-piring kecil itu. Tidak ada yang mengeluh diantara kita. Mungkin miris, tapi sungguh bagiku menyenangkan kala itu.

Aku ingin masakan rumah menjadi sebuah ritual yang tidak dapat kita tinggalkan. Setidaknya sarapan dan makan malam harus dilakukan di rumah. Itu menjaga komunikasi diantara kita. Belum lagi jika keluarga kita sudah bertambah, meja makan harus menjadi tempat yang nyaman untuk kita saling berbagi cerita. Aku ingin memastikan anak-anak kita nanti memiliki kecukupan. Dari segi jiwa dan raga. Sesibuk apapun pekerjaanku nanti, pekerjaanmu nanti, sekolah anak-anak kita, ritual ini tidak boleh ditinggalkan.

Suatu saat nanti kita harus dapat membuat sup ayam dan telur dadar kita sendiri, di rumah kita sendiri. Sup ayam yang dapat menentramkan hati kita semua. Telur dadar dan sambal yang menjadikan rumah selayaknya rumah untuk pulang.


Yudith Susetio
7 Maret 2016

Tidak ada komentar: