Kau tahu, perihal masak-memasak di
keluarga kita nanti, aku tidak pernah cemas. Pun bukan masalah karena kita
tidak terlalu pandai memasak. Dulu saat aku tinggal di asrama turki, aku
terbiasa memasak. Walaupun masakannya mungkin tidak terlalu familiar untukmu. Tapi
setidaknya kita dapat bergantian. Dan bukankah menyenangkan memasak bersama? Kita
dapat bercanda disela-selanya. Kita akan berdebat kecil mengenai mana yang
harus dipanaskan terlebih dahulu atau siapa yang harus mengocok telur.
Terlebih, pasangan-pasangan muda
yang banyak kutemui sekarang lebih hafal makan di mana daripada masak apa. Beberapa
diantara mereka lupa, pentingnya masakan rumah. Masakan rumah mengikat kita
menjadi satu. Masakan rumah adalah satu dari sekian banyak hal yang akan kita
rindukan saat hendak pulang. Masakan rumah adalah bumbu agar keluarga kita
tetap manis dan menyenangkan. Masakan rumah itu seperti tungku yang membuat
rumah selalu hangat dan nyaman untuk ditinggali. Masakan rumah adalah salah
satu bentuk perhatian yang konkret dan nyata. Rumah tanpa dapur, bukan rumah sama
sekali.
Dimasa mudaku, aku kerap kali
menginap di rumah beberapa orang teman. Beberapa mereka memiliki rumah yang
nyaman, pun beberapa tidak. Anak-anak mencari makanan untuk diri mereka
sendiri, entah beli dari luar atau sekedar memasak telur dan mie. Mereka tidak
menerima perhatian nyata dari keluarganya. Meja makannya selalu kosong. Perlahan,
keterikatannya dengan rumah dan keluarga menipis.
Hingga kini, saat aku sakit atau
lara, satu hal yang selalu aku inginkan adalah sup ayam buatan ibu. Tidak ada
lain selain itu yang dapat menjadi pelipur lara. Masakan rumah tidak selalu
harus sulit. Sesederhana sup ayam buatan ibu yang hanya godogan ayam hingga
kuahnya menjadi kaldu, ditambah merica, bawang daun, tomat dan garam juga
sejumput gula. Tidak selalu harus sempurna, toh aku bukan akan mengawini
seorang koki bukan?
Dulu, keluargaku pernah benar-benar
tidak mampu, hingga kami harus memasak dadar satu butir telur untuk berempat
ditemani sambal goang buatan ibu. Tapi, makan ketika itu adalah salah satu waktu
terbaik yang selalu aku kenang. Aku masih ingat bagaimana kepala kami
bertubrukan di atas piring-piring kecil itu. Tidak ada yang mengeluh diantara kita. Mungkin miris, tapi sungguh bagiku
menyenangkan kala itu.
Aku ingin masakan rumah menjadi
sebuah ritual yang tidak dapat kita tinggalkan. Setidaknya sarapan dan makan
malam harus dilakukan di rumah. Itu menjaga komunikasi diantara kita. Belum lagi
jika keluarga kita sudah bertambah, meja makan harus menjadi tempat yang nyaman
untuk kita saling berbagi cerita. Aku ingin memastikan anak-anak kita nanti
memiliki kecukupan. Dari segi jiwa dan raga. Sesibuk apapun pekerjaanku nanti,
pekerjaanmu nanti, sekolah anak-anak kita, ritual ini tidak boleh ditinggalkan.
Suatu saat nanti kita harus dapat
membuat sup ayam dan telur dadar kita sendiri, di rumah kita sendiri. Sup ayam
yang dapat menentramkan hati kita semua. Telur dadar dan sambal yang menjadikan
rumah selayaknya rumah untuk pulang.
Yudith Susetio
7 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar